Sebuah Kisah, Cerita dan Imajinasi

BTemplates.com

Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

Merantau Demi Sebuah Harapan




                 

                 Perasaan sangat senang dan gembira sangat kurasakan saat menerima hasil kelulusanku, ya meskipun hasil UNBK ku tidak begitu bagus atau hanya bisa dibilang standar, tapi hatiku sangat senang saat mengetahui aku telah lulus dari sekolah yang sangat membsoankan yang kurasakan. Aku dan para temanku bersorak bersama dan melakukan parade kelulusan dengan berkeliling kotaku yang kecil ini bersama teman teman satu angkatanku dikota ini. Kita semua sangat senang tanpa mengetahui hal sulit apa yang akan kita lalui setelah lulus dari kehidupan bersekolah yang dipikir semua orang sangat membosankan.

                Beberapa bulan kemudian tibalah saatnya bagiku untuk melakukan bimbingan belajar dan berharap untuk masuk kedalam Universitas yang kuinginkan, orang tuaku melepasku dengan tangis saat beliau mengantarku menuju tempat kost sementara, kenapa tidak orang tuaku akan menangis, beliau melepas anakn satu satunya untuk pergi kekota yang lebih besar untuk belajar agar masuk Universitas keinginannya. Namu aku membuat kesalahan besar, karna melihat hasil TO ku saat bimbel selalu memuaskan aku pun mulai lalai dalam belajar dan sibuk mengganggu cewek yang ku incar di kelas bimbinganku, dan hasilnya aku bersama cewek tersebut tidak lolos SBMPTN di Universitas yang kita inginkan, ini meruakan sebuah penyesalan bagiku, aku lalai dalam belajar padahal orang tuaku melepasku dengan tangis dan telah menghabiskan banyak uang untukku.

                Setelah putus asa beberapa bulan karna tidak lulus akhirnya aku memutuskan untuk melakukan unjian Mandiri agar masuk ke Universitas yang ku inginkan. Saat itu aku mengmbil dua universitas, satu universitas terkemuka di Jakarta dan kedua Universitas terbaik di Padang. Setelah melakukan ujian Mandiri di Padang malamnya aku langsung berangkat ke Jakarta untuk melakukan test Mandiri di Universitas incaranku di Jakarta.

                Setelah beberapa beberapa minggu akhirnya aku menerima hasil kelulusan ku di Universitas yang kudaftari di Padang, dan bergegas pergi ke Padang sembari menantikan hasil tesku di Jakarta. Namun setelah sampai dipadang aku berubah fikiran dan tidak jadi melakukan daftar ulang di Padang karena jurusan yang ku dapat kurang sesuai dengan keinginanku, dan akupun telah melewatkan satu kesempatanku untuk berkuliah di Universitas terbaik di Padang dan berharap lulus di Jakarta. Namun Allah berkata lain ,saat menerima hasil test di Jakarta mereka menyatakan aku tidak lulus dan seketika itu membuat hatiku dan mamaku hancur, namun aku selalu memberi semangat kepada orang tuaku bahwa aku akan tetap kuliah dimanapun itu demi keinginan orang tuaku meskipun hatiku sangat hancur dan bahkan tak bisa tertidur untuk beberapa malam.

                Beberapa minggu kemudian aku memutuskan untuk masuk ke Universitas Swasta yang harganya murah di Jakarta, ya mungkin karna itu Universitas swasta dan harganya juga murah akupun diterima dengan  lancer di Universitas tersebut, dan disinilah kisahku akan dimulai dan merasakan sakitnya hidup di perantauan.

                Akhirnya orang tuaku melepasku untuk hidup dan menuntut ilmu dijakarta, tangis yang begitu banyak meneteskan air mata terlepas dari ibuku yang harus melepas anak tunggalnya hidup di negri orang, sedangkan diriku hanya berusaha menahan tangis agar ibuku tifak bertambah sedih, bahkan ibuku tidak kuat menatapku dari dalam mobilnya, ya mungkin perasaan yang dirasakan ibuku adalah sedih dengan penuh harapan agar anaknya bisa sukses, demi berharap kesuksesan anaknya ibuku rala menahan kesedihannya untuk melepaskan anak satu satunya.

                Sementara aku merasa senang bisa hidup dan melanjutkan Pendidikan di Kota yang penuh dengan sejuta harapan manusia ini,

                Namun beberapa minggu kuliah aku merasakan ketidak cocokan untuk belajar di Universitas yang kutempati ini, aku merasakan bahwa mahasiswa lebih dibutuhkan daripada dosen di Universitas ini, karna kekecewaanku belajar di univeritas ini dan terutama akupun merasa tidak cocok bergaul dengan para teman temanku di kampus, akupun mulai mengasingkan diri dan bahkan sering bolos kuliah dan lebih memilih untuk tidur di kos daripada pergi kuliah dan tidak mendapatkan apa apa, bahkan aku tidak memiliki teman akrab di Jakarta ini, karena lingkunganku hanyalah kampus dan mereka kurasa tidak cocok denganku dan akupun menjalani kehidupanku dengan seorang diri, ya walaupun tanteku ada dijakarta juga tapi aku hanya sesekali mampir kerumahnya.

                Aku menjalani kehidupanku yang sendiri disini dan semua masalah yang kuhadapi kutanggung sendiri tanpa ada teman untuk ku berbagi masalah, aku selalu menangis setiap malam karna aku telah mengecewakan harapan orang tuaku, rasanya aku ingin berbalik lagi kekampung dan menjalani hidup bersama dengan orang tuaku, tapi aku terfikir telah berapa banyak uang orang tuaku habis agar aku dapat berkuliah dan bahkan orang tuaku telah membelikan ku kendara agar aku lebih mudah berpergiana di Jakarta, bahkan saat makan dimana aku mengingat orang tuaku aku selalu menangis.
                Hidup ini terasa begitu berat bahkan aku sempat berfikir untuk mengakhirinya, namun aku kembali teringat  bahwa Allah pasti punya rencana dibalk ini dan aku terfikir bagaimana orang tuaku saatakan kutinggali.

                Mungkin ini adalah peyesalan terbesar dalam hidupku demi sebuah nama kota Jakarta aku meninggalkan orang tuaku, teman temanku behkan semua kehidupan lamaku demi sebuah Gengsi hidup dikota Megapolitan seberti ini. Setiap hari kulalui dengan keputus asaan, kekecewaan dan penyesalan dalam diriku sehingga membuat semua hariku terbuang sia sia, tanpa teman dan orang tua yagn selalu menyemangatiku, setiap hari hanyalah tangisan yang selalu menemaniku, aku tak ingin bercerita kepada orang tuaku karna rasa takutku karna telah membuat mereka kecewa.

                Dan akhirnya kesendirianku, dan kesedihanku telah terlewatkan setelah satu semester berkuliah, dan tibalah saatnya bagiku untuk kembali kekampung halmanku. Hanya memikirkannya saja telah membuatku bahagia karna aku akan bertemu dengan Ibu, Ayah dan semua teman temanku lagi, namun dibalik semua kesenangan yang kurasakan aku masih menyimpan perasaan yang sangat sakit menjalani kehidupan ini, ingin rasanya ku memeluk ibuku dan melampiaskan semua perasaanku padanya, tetapi jiwa ini tak sanggup untuk melakukannya, karna aku merupakan anak satu satunya dari orang tuaku dan aku merupakan anak laki laki yang sangat ia banggakan.

                Setelah beberapa jam melakukan penerbangan akhirnya aku sampai di depan rumahku dan melihat ibuku yang menatapku  menunggukan kepulanganku, sontak aku hanya bisa menahan tangis dan tak berani mengungkapkanya atau dalam Bahasa minang disebut “balulua tangih ka dado” yang atinya kita hanya menahan tangis dan takbisa mengungkapkannya sehingga kita hanya menahannya di dalam dada dan perasaankan kita

                Dua bulan waktu liburku kuhabiskan dengan dikampung dan bersenang senang dengan orang tua dan teman teman terbaikku. Dan aku mengatakan kepada teman temanku dikampung bahwa aku tidak memiliki teman teman sebaik dan pengertian seperti kalian di Jakarta dan aku masih tidak bisa menceritakan masalah sesungguhnya kepada mereka, tetapi mereka tetap berkata lebih baik aku kembali ke Padang dan melanjutkan kuliahku di Padang, namun aku tidak bisa kembali karena aku teringat sudah berapa banyka uang yang dihabiskan orang tuaku agar aku dapat mencapai keinginanku untuk berkuliah di Jakarta dan sekarang kembali ke kampung lagi dan meninggalkan semuanya dengan sia sia.

                Dan tibalah minggu minggu terakhirku di kampung dan setelahnya aku harus kembali lagi ke Jakarta, dimana kehidupan begitu keras dan sangat menyedihkan, bahkan sampai sampai aku susah tidur dihari hari terakhirku di kampung, semua perasaan dan kehidupan pahit telah menantiku di Jakarta

                Dan bahkan hidup terasa sangat sulit tanpa orang tua, sahabat bahkan pasangan.. hehe
                 

 Untuk lanjutan ceritanya ane janjiin next time ya gan, soalnya ane ngetik ini ibarat ngetik diary, dan sekarang ane baru nyampe di Jakarta lagi untuk melanjutkan kuliah semester dua,, meskipun sangat menyakitkan.
Maaf untuk tulisannya, pertama nulis cerita ane,, doain gan semoga hidup ane dijakarta dilancarkan dan semoga ane dan agan semua menuju kesuksesan,, Amiinn..