Merantau Demi Sebuah Harapan
Perasaan sangat senang dan gembira sangat kurasakan saat menerima hasil kelulusanku, ya meskipun hasil UNBK ku tidak begitu bagus atau hanya bisa dibilang standar, tapi hatiku sangat senang saat mengetahui aku telah lulus dari sekolah yang sangat membsoankan yang kurasakan. Aku dan para temanku bersorak bersama dan melakukan parade kelulusan dengan berkeliling kotaku yang kecil ini bersama teman teman satu angkatanku dikota ini. Kita semua sangat senang tanpa mengetahui hal sulit apa yang akan kita lalui setelah lulus dari kehidupan bersekolah yang dipikir semua orang sangat membosankan.
Beberapa
bulan kemudian tibalah saatnya bagiku untuk melakukan bimbingan belajar dan
berharap untuk masuk kedalam Universitas yang kuinginkan, orang tuaku melepasku
dengan tangis saat beliau mengantarku menuju tempat kost sementara, kenapa tidak
orang tuaku akan menangis, beliau melepas anakn satu satunya untuk pergi kekota
yang lebih besar untuk belajar agar masuk Universitas keinginannya. Namu aku
membuat kesalahan besar, karna melihat hasil TO ku saat bimbel selalu memuaskan
aku pun mulai lalai dalam belajar dan sibuk mengganggu cewek yang ku incar di kelas
bimbinganku, dan hasilnya aku bersama cewek tersebut tidak lolos SBMPTN di
Universitas yang kita inginkan, ini meruakan sebuah penyesalan bagiku, aku
lalai dalam belajar padahal orang tuaku melepasku dengan tangis dan telah
menghabiskan banyak uang untukku.
Setelah
putus asa beberapa bulan karna tidak lulus akhirnya aku memutuskan untuk
melakukan unjian Mandiri agar masuk ke Universitas yang ku inginkan. Saat itu
aku mengmbil dua universitas, satu universitas terkemuka di Jakarta dan kedua
Universitas terbaik di Padang. Setelah melakukan ujian Mandiri di Padang malamnya
aku langsung berangkat ke Jakarta untuk melakukan test Mandiri di Universitas
incaranku di Jakarta.
Setelah
beberapa beberapa minggu akhirnya aku menerima hasil kelulusan ku di
Universitas yang kudaftari di Padang, dan bergegas pergi ke Padang sembari
menantikan hasil tesku di Jakarta. Namun setelah sampai dipadang aku berubah
fikiran dan tidak jadi melakukan daftar ulang di Padang karena jurusan yang ku
dapat kurang sesuai dengan keinginanku, dan akupun telah melewatkan satu
kesempatanku untuk berkuliah di Universitas terbaik di Padang dan berharap
lulus di Jakarta. Namun Allah berkata lain ,saat menerima hasil test di Jakarta
mereka menyatakan aku tidak lulus dan seketika itu membuat hatiku dan mamaku
hancur, namun aku selalu memberi semangat kepada orang tuaku bahwa aku akan
tetap kuliah dimanapun itu demi keinginan orang tuaku meskipun hatiku sangat
hancur dan bahkan tak bisa tertidur untuk beberapa malam.
Beberapa
minggu kemudian aku memutuskan untuk masuk ke Universitas Swasta yang harganya
murah di Jakarta, ya mungkin karna itu Universitas swasta dan harganya juga
murah akupun diterima dengan lancer di
Universitas tersebut, dan disinilah kisahku akan dimulai dan merasakan sakitnya
hidup di perantauan.
Akhirnya
orang tuaku melepasku untuk hidup dan menuntut ilmu dijakarta, tangis yang
begitu banyak meneteskan air mata terlepas dari ibuku yang harus melepas anak
tunggalnya hidup di negri orang, sedangkan diriku hanya berusaha menahan tangis
agar ibuku tifak bertambah sedih, bahkan ibuku tidak kuat menatapku dari dalam
mobilnya, ya mungkin perasaan yang dirasakan ibuku adalah sedih dengan penuh
harapan agar anaknya bisa sukses, demi berharap kesuksesan anaknya ibuku rala
menahan kesedihannya untuk melepaskan anak satu satunya.
Sementara
aku merasa senang bisa hidup dan melanjutkan Pendidikan di Kota yang penuh
dengan sejuta harapan manusia ini,
Namun beberapa
minggu kuliah aku merasakan ketidak cocokan untuk belajar di Universitas yang
kutempati ini, aku merasakan bahwa mahasiswa lebih dibutuhkan daripada dosen di
Universitas ini, karna kekecewaanku belajar di univeritas ini dan terutama
akupun merasa tidak cocok bergaul dengan para teman temanku di kampus, akupun
mulai mengasingkan diri dan bahkan sering bolos kuliah dan lebih memilih untuk
tidur di kos daripada pergi kuliah dan tidak mendapatkan apa apa, bahkan aku
tidak memiliki teman akrab di Jakarta ini, karena lingkunganku hanyalah kampus
dan mereka kurasa tidak cocok denganku dan akupun menjalani kehidupanku dengan
seorang diri, ya walaupun tanteku ada dijakarta juga tapi aku hanya sesekali
mampir kerumahnya.
Aku menjalani
kehidupanku yang sendiri disini dan semua masalah yang kuhadapi kutanggung
sendiri tanpa ada teman untuk ku berbagi masalah, aku selalu menangis setiap
malam karna aku telah mengecewakan harapan orang tuaku, rasanya aku ingin
berbalik lagi kekampung dan menjalani hidup bersama dengan orang tuaku, tapi
aku terfikir telah berapa banyak uang orang tuaku habis agar aku dapat
berkuliah dan bahkan orang tuaku telah membelikan ku kendara agar aku lebih
mudah berpergiana di Jakarta, bahkan saat makan dimana aku mengingat orang tuaku
aku selalu menangis.
Hidup ini
terasa begitu berat bahkan aku sempat berfikir untuk mengakhirinya, namun aku
kembali teringat bahwa Allah pasti punya
rencana dibalk ini dan aku terfikir bagaimana orang tuaku saatakan kutinggali.
Mungkin
ini adalah peyesalan terbesar dalam hidupku demi sebuah nama kota Jakarta aku
meninggalkan orang tuaku, teman temanku behkan semua kehidupan lamaku demi
sebuah Gengsi hidup dikota Megapolitan seberti ini. Setiap hari kulalui dengan
keputus asaan, kekecewaan dan penyesalan dalam diriku sehingga membuat semua
hariku terbuang sia sia, tanpa teman dan orang tua yagn selalu menyemangatiku,
setiap hari hanyalah tangisan yang selalu menemaniku, aku tak ingin bercerita
kepada orang tuaku karna rasa takutku karna telah membuat mereka kecewa.
Dan akhirnya
kesendirianku, dan kesedihanku telah terlewatkan setelah satu semester
berkuliah, dan tibalah saatnya bagiku untuk kembali kekampung halmanku. Hanya memikirkannya
saja telah membuatku bahagia karna aku akan bertemu dengan Ibu, Ayah dan semua
teman temanku lagi, namun dibalik semua kesenangan yang kurasakan aku masih
menyimpan perasaan yang sangat sakit menjalani kehidupan ini, ingin rasanya ku
memeluk ibuku dan melampiaskan semua perasaanku padanya, tetapi jiwa ini tak
sanggup untuk melakukannya, karna aku merupakan anak satu satunya dari orang tuaku
dan aku merupakan anak laki laki yang sangat ia banggakan.
Setelah
beberapa jam melakukan penerbangan akhirnya aku sampai di depan rumahku dan
melihat ibuku yang menatapku menunggukan
kepulanganku, sontak aku hanya bisa menahan tangis dan tak berani
mengungkapkanya atau dalam Bahasa minang disebut “balulua tangih ka dado”
yang atinya kita hanya menahan tangis dan takbisa mengungkapkannya sehingga
kita hanya menahannya di dalam dada dan perasaankan kita
Dua bulan
waktu liburku kuhabiskan dengan dikampung dan bersenang senang dengan orang tua
dan teman teman terbaikku. Dan aku mengatakan kepada teman temanku dikampung
bahwa aku tidak memiliki teman teman sebaik dan pengertian seperti kalian di Jakarta
dan aku masih tidak bisa menceritakan masalah sesungguhnya kepada mereka,
tetapi mereka tetap berkata lebih baik aku kembali ke Padang dan melanjutkan
kuliahku di Padang, namun aku tidak bisa kembali karena aku teringat sudah
berapa banyka uang yang dihabiskan orang tuaku agar aku dapat mencapai
keinginanku untuk berkuliah di Jakarta dan sekarang kembali ke kampung lagi dan
meninggalkan semuanya dengan sia sia.
Dan tibalah
minggu minggu terakhirku di kampung dan setelahnya aku harus kembali lagi ke
Jakarta, dimana kehidupan begitu keras dan sangat menyedihkan, bahkan sampai
sampai aku susah tidur dihari hari terakhirku di kampung, semua perasaan dan
kehidupan pahit telah menantiku di Jakarta
Dan bahkan
hidup terasa sangat sulit tanpa orang tua, sahabat bahkan pasangan.. hehe
Untuk lanjutan ceritanya ane janjiin next time ya gan, soalnya ane ngetik ini ibarat ngetik diary, dan sekarang ane baru nyampe di Jakarta lagi untuk melanjutkan kuliah semester dua,, meskipun sangat menyakitkan.
Maaf untuk tulisannya, pertama nulis cerita ane,, doain gan semoga hidup ane dijakarta dilancarkan dan semoga ane dan agan semua menuju kesuksesan,, Amiinn..

0 komentar:
Posting Komentar